Apakabar Sobat-sobat, semoga sehat segalanya.
Kali ini kita bahas mengenai mesin cuci Electrolux pintu depan, sudah terbayang susahnya dalam mengerjakan modul tipe ini dimana modulnya double side (dua sisi) dan smd (surface mounted device) alias tempel, menelusuri jalurnya saja susah apalagi melakukan pengukuran tegangan pada saat kondisi hidup (on). Besaran tegangan Sensor-sensor tidak jauh beda dengan mesin cuci merek midea, bisa lihat di postingan sebelumnya, DISINI
Trobel modul unitnya adalah tidak bisa proses apapun setelah start kecuali hanya pompa buang (drain) yang kerja hanya dalam 2 atau 3 detik kemudian diam saja, tidak ada reaksi apapun termasuk angka digitalnya. Di modul yang lain yang kami dapati angka digitalnya masih menunjukkan hitungan mundur.
![]() |
| Gb.1. Modul Mesin Cuci Electrolux |
Pertama-tama yang harus dicek adalah sensor-sensornya yang berada
di luar modul:
1. Thermistor, ukuran thermis kisaran 5
kiloohm
2. Tacho, ukuran lilitannya kisaran 35 ohm
Hanya dua hal tersebut yang bisa kita ukur dengan multitester, tiap merek dan tipe bisa beda ukurannya. Water
level diasumsikan tidak bermasalah karena tidak muncul error pada saat
dihidupkan. Yang kami temukan adalah ternyata lilitan tacho putus, tidak ada
tahanan (resistensi) sama sekali. Yang masalah berikutnya adalah dimana kita
mendapatkan atau membeli lilitan tacho tersebut. Mungkin di service center juga
tidak ada -itu dugaan kami saja- yang pasti ada adalah satu motor dinamo utuh,
namun harganya kisaran Rp1 juta bagi kami itu adalah harga yang fantastis. Jalan
termurah adalah mencarinya di pasar loak, mencari barang bekas yang masih
normal.
![]() |
| Gb.2. Tacho |
Pengecekan berikutnya pada tegangan sensor-sensor, menuurut data
yang telah kami miliki seperti pada postingan sebelumnya semuanya tampak
normal-normal saja, semua jalur tampak utuh tidak ada yang karatan atau
terbakar. Dugaan kami hal ini terjadi karena ic program (micom) masih
menganggap adanya ketidaknormalan pada pembacaan sensor sehingga kami mencoba
untuk “unplug and plug” (cabut dan pasang lagi) masing-masing sensor pada
kondisi ‘on’ tetapi belum start. Dalam melakukan hal ini kita harus hati-hati
jangan sampai kita terkena sengatan listrik. Apapun error yang muncul di display
abaikan saja.
Pertama yang kami tes adalah tacho, kami putus
salah satu sambungan dengan tang yang isolatifnya masih bagus, setelah sekitar
5 detik kami sambung lagi.
Kedua adalah thermis, kami cabut dan setelah 5
detik kami pasang lagi.
Ketiga adalah pompa drain dan pompa sirkulasi
(unit ini menggunakan 2 buah pompa) cabut salah satu konektornya dan setelah 5
detik pasang lagi.
Keempat adalah water level, kami cabut dan pasang
lagi setelah 5 detik.
Setelah melakukan keempat hal di atas kami matikan modul dengan
menekan tombol power kemudian mencabut kabel listrik setelah sekitar 5 menit
modul kami hidupkan kembali. Waktu 5 menit ini kami maksudkan agar semua
tegangan di power suplai menjadi nol. Hasil yang kami dapatkan adalah setelah
tombol start ditekan semua bagian sistem berjalan normal, door lock, 2 buah
solenoid, 2 buah pompa, dinamo motor semua berfungsi sebagaimana mestinya.
Pernah kami bahas pula mengenai lilitan tacho yang nilai
tahanannya bertambah besar yaitu putaran motor lambat dan terkadang sangat
cepat kemudian terjadi error serta jeda antar putaran akan terasa sangat lama. Trobel yang sama belum tentu solusinya sama.
Catatan tambahan:
Hal terpenting dalam pengerjaan elektronik adalah pengalaman karena hal itu sedikit diajarkan di sekolahan -itu menurut mereka yang pernah sekolah jurusan elektronika- kecuali teori dasar elektronika, bagi yang tidak pernah sekolah jurusan elektronika bisa baca-baca buku elektronika atau belajar pada orang yang telah mahir. Sekolah adalah barang mahal saat ini, entah dimasa yang akan datang, janganlah kita memandang orang yang tidak sekolah adalah “sampah”, lihatlah apa yang orang bisa lakukan jangan melihat apa lulusannya. Bagi kami yang kelas sosial ‘elit’ (ekonomi sulit) kadang berpikiran sekolah itu tidak penting, yang penting adalah “belajar”.
Hal terpenting dalam pengerjaan elektronik adalah pengalaman karena hal itu sedikit diajarkan di sekolahan -itu menurut mereka yang pernah sekolah jurusan elektronika- kecuali teori dasar elektronika, bagi yang tidak pernah sekolah jurusan elektronika bisa baca-baca buku elektronika atau belajar pada orang yang telah mahir. Sekolah adalah barang mahal saat ini, entah dimasa yang akan datang, janganlah kita memandang orang yang tidak sekolah adalah “sampah”, lihatlah apa yang orang bisa lakukan jangan melihat apa lulusannya. Bagi kami yang kelas sosial ‘elit’ (ekonomi sulit) kadang berpikiran sekolah itu tidak penting, yang penting adalah “belajar”.
Sekarang banyak hal menjadi mudah bila kami bandingkan dengan
masa-masa awal belajar elektronik, ketika skema, data ataupun tempat bertanya begitu
terbatas. Maaf kalau bahasan ini bercampur dengan curhatan, mengenang masa
lalu bersama tim kami yang sekarang jauh disana.
Demikian bahasan kami kali ini maaf bila ada yang kurang tepat dan semoga bermanfaat bagi kita semua serta jangan berkecil hati meskipun kita belum bisa "membuat" hanya sekedar bisa memperbaiki.







































